top of page
SGB09479.png

Tentang Kami

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Sed interdum, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Bangun, bekerja, membeli sesuatu, bertemu seseorang, lalu kembali pulang. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Sesekali kita menyebutnya bahagia. Sesekali kita menyebutnya self-care. Sesekali kita membeli sesuatu karena kita tidak tahu lagi bagaimana cara merasa lebih baik.

 

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Tetapi mungkin ada yang keliru. Rutinitas yang semula menenangkan perlahan menjadi tekanan. Pekerjaan menjadi identitas. Penghasilan menjadi harga diri. Kenyamanan menjadi rasa bersalah. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

​

Kita hidup di tengah begitu banyak manusia, tetapi semakin sulit merasa dikenal. Kita tahu apa yang harus dikenakan, apa yang harus dikerjakan, ke mana harus pergi, bagaimana harus terlihat bahagia. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Kita tahu begitu banyak hal. Kita hanya semakin lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri.

​

Kain Gembira lahir dari kegelisahan itu.

​

Dari kehidupan kota yang terus meminta kita untuk baik-baik saja, bahkan ketika kita tidak baik-baik saja. Dari pertanyaan tentang siapa diri kita ketika pekerjaan, uang, status, kenyamanan, dan pandangan orang lain perlahan mengambil tempat terlalu besar dalam hidup.

 

Dari hubungan kita dengan benda-benda.

​

Kita membeli untuk merasa lebih baik. Berpakaian untuk merasa menjadi seseorang. Memilih sesuatu yang indah agar dunia melihat kita dengan cara tertentu. Kita membangun diri dari apa yang kita miliki, lalu bertanya mengapa kita masih merasa kehilangan sesuatu.

 

Et fortasse cultura quoque ita est.

​

Sebuah kain dipakai. Sebuah motif diulang. Sebuah cerita diwariskan. Sebuah upacara dilakukan. Kita menyebutnya tradisi. Kita menyebutnya warisan. Kita menyebutnya identitas.

​

Lalu kita berhenti bertanya apa artinya.

​

Kebudayaan menjadi sesuatu yang kita kenali bentuknya, tetapi tidak lagi kita dengarkan suaranya.

​

Sicut lorem ipsum.

​

Ada di depan mata. Terlihat penting. Terlihat indah. Tetapi kita tidak benar-benar tahu apa yang sedang dikatakannya.

​

Maka kami membuat benda-benda untuk hidup di tengah semua kontradiksi itu.

​

Bukan untuk menyelamatkan kita. Bukan untuk mengembalikan kebudayaan ke masa lalu. Dan bukan untuk membuat tradisi terlihat suci, sempurna, atau aman.

​

Kami ingin membiarkan kebudayaan ikut berubah bersama manusia yang menghidupinya.

​

Menjadi baru.

​

Menjadi ganjil.

​

Menjadi indah.

​

Menjadi berlebihan.

​

Bahkan menjadi sedikit tidak sopan.

​

Sebab sesuatu yang hidup seharusnya boleh berubah. Boleh salah. Boleh lucu. Boleh menyakitkan. Boleh tidak sopan.

 

Sebab mungkin kebudayaan tidak selalu harus dirayakan.

​

Kadang ia perlu diganggu.

​

Kadang ia perlu dipertanyakan.

​

Kadang ia perlu dipakai untuk mengatakan sesuatu yang tidak sanggup kita katakan dengan mulut sendiri.

​

Karena kebudayaan juga pernah hidup di tangan manusia yang lapar, marah, jatuh cinta, bekerja, berutang, berpesta, berduka, dan mati.

 

Ia tidak pernah benar-benar suci.

 

Ia hanya pernah hidup.

 

Dan mungkin kita tidak perlu membuatnya tetap terlihat seperti dulu.

 

Mungkin kita hanya perlu membuatnya kembali berarti.

 

Kain Gembira tidak punya jawabannya.

 

Barangkali memang tidak ada.

 

Kami hanya tahu bahwa sesuatu yang hidup tidak seharusnya dipaksa untuk selalu terlihat baik-baik saja.

 

Dan mungkin selama ini kita pun begitu.

Bangun.

Bekerja.

Membeli sesuatu.

Mengenakan sesuatu yang indah.

Keluar ke dunia.

Tersenyum.

Pulang.

Tidur.

 

Lalu mengulanginya kembali.

​

Sambil diam-diam bertanya:

Sebenarnya aku sedang menjalani hidup siapa?

​

Mungkin tidak ada jawabannya.

​

Mungkin memang tidak perlu ada.

​

Yang penting, untuk sekali ini, kita mencoba membaca.

 

Bukan hanya apa yang tertulis.

​

Tetapi apa yang kita kenakan.

​

Apa yang kita warisi.

​

Apa yang kita ulangi.

 

Dan apa yang selama ini kita kira sebagai kehidupan.

 

Kain Gembira.

Sesuatu yang hidup tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.

bottom of page